Media Pembelajaran Bilangan Bulat

October 25, 2017 3 Comments

Teknologi informasi mempengaruhi perkembangan media pembelajaran. Hal ini menimbulkan dampak munculnya bermacam-macam media. Salah satunya media berbasis android. Saat ini banyak orang yang beralih menggunakan perangkat berbasis android untuk dijadikan sebagai media dalam mengakses informasi secara mudah dan cepat, salah satunya siswa. Mengingat perkembangan teknologi yang pesat ini, dan dekatnya siswa dengan gadget, maka pembelajaran di era 21 hendaknya memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. 

Untuk memanfaatkan teknologi, khususnya android maka dikembangkan media pembelajaran guna meningkatkan pemahaman konsep operasi hitung bilangan bulat pada siswa kelas IV sekolah dasar. Media pembelajaran diberi nama SINAR. Media pembelajaran SINAR difokuskan untuk memberikan pembelajaran dalam nuansa bermain yang terarah pada mengkonstruksi pemahaman siswa tentang operasi hitung bilangan bulat. 

Bilangan bulat merupakan salah satu materi muatan matematika yang dibelajarkan di sekolah dasar. Bilangan bulat sendiri terdiri dari tiga bagian. Pertama adalah bilangan bulat positif contohnya 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan seterusnya. Kedua adalah bilangan nol (0), dan ketiga adalah bilangan bulat negatif contohnya -1, -2, -3, -4, -5, dan seterusnya. Di dalam garis bilangan, letak bilangan bulat negatif berada di sebelah kiri angka nol (0). Bilangan bulat positif berada di sebelah kanan angka nol (0).

Media Pembelajaran SINAR membantu siswa dalam mengeksplorasi operasi hitung (penjumlahan dan pengurangan) bilangan bulat. [download]

Semoga bermanfaat.

Aplikasi Raport K13 Revisi Terbaru 2017

October 14, 2017 1 Comment
Aplikasi raport sangat diperlukan guru untuk emmpermudah menyampaikan hasil belajar siswa selama 1 semester. Berikut ini admin bagikan aplikasi raport K13 edisi revisi. Aplikasi ini dikembangkan oleh I Made Rai Ali Sentanu, S.Pd, guru di SD Negeri 14 Kesiman.

Keunggulan aplikasi yang dikembangkan antara lain:

  1. Pemetaan KD berdasarkan buku revisi 2017, KD pada mapel PJOK Mat Mulok dapat diedit,
  2. Mudah untuk menuju ke halaman lain,
  3. Tampilan yang menarik dan rapi
  4. Mudah untuk input nilai
  5. Deskripsi otomatis
  6. Rentang predilat bersifat dinamis
  7. Cocok digunakan untuk sekolah yang baru menerapkan k.13
Adapun tutorialnya dapat diliha pada link 1 dan link 2 berikut.

Aplikasi Raport K13  Revisi dapat di download dengan mengklik gambar di bawah ini. 


Semoga bermanfaat!

MODEL PEMBELAJARAN SI DIA BERBANTUAN CERITA BERGAMBAR SEBAGAI UPAYA MENUMBUHKAN BUDAYA BACA BAGI SISWA DI SEKOLAH DASAR

October 14, 2017 Add Comment
MODEL PEMBELAJARAN SI DIA BERBANTUAN CERITA BERGAMBAR SEBAGAI UPAYA MENUMBUHKAN BUDAYA BACA
BAGI SISWA DI SEKOLAH DASAR*)

Abstrak

Model pembelajaran Si DIA berbantuan cerita bergambar merupakan modifikasi dan kombinasi dari tahap pembiasaan dan pengembangan kegiatan literasi di sekolah dasar.  Perpaduan tahapan ini bertujuan untuk meningkatkan budaya baca siswa, khususnya di sekolah dasar. Implementasi model ini dengan berbantuan buku cerita bergambar sangat tepat karena  buku cerita bergambar mengandung suatu ajaran moral dan menggugah minat siswa untuk membaca. Tahapan model Si Dia meliputi: 1) Siapkan. Guru harus menyiapkan perpustakaan kelas dan buku cerita bergambar. 2) Dampingi. Kegiatan pendampingan bertujuan membantu siswa untk memahami pertanyaan dan cara menyelesaikan. 3) Ilustrasikan. Kegiatan ini berupa membuat ilustrasi cerita dalam bentuk gambar. 4) Apresiasi, hasil karya siswa dipajang di papan pajangan. Model pembelajaran Si DIA berimplikasi terhadap penciptaan pembiasaan belajar terstruktur, membentuk suasana kondusif yang mengarah pada peningkatan budaya baca.

Kata kunci: model pembelajaran, cerita bergambar, budaya baca


A.    PENDAHULUAN
Membaca menjadi bagian penting dalam pembelajaran di sekolah. Membaca juga melatih tingkat pemahaman terhadap isi bacaan. Dikaitkan dengan taksonomi Bloom (Thoha, 2003), pemahaman (understanding) merupakan tingkatan ranah kognitif yang berada di atas ingatan (remembering). Berkenaan dengan keterampilan membaca, hasil penelitian oleh PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) tahun 2011, Indonesia berada pada peringkat ke-45 dari 48 negara peserta. Data ini menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah khusunya pada keterampilan membaca (Faizah, dkk: 2016).
Keterampilan membaca erat kaitannya dengan gerakan literasi. Gerakan Literasi Nasional yang digagas dan dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan kepedulian atas rendahnya kompetensi peserta didik Indonesia dalam bidang matematika, sains, dan membaca. Gerakan membaca ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan membaca kepada siswa dan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus merancang imajinasi.
Pelaksanaan gerakan literasi di SD Negeri 14 Pemecutan telah mulai dikembangkan sejak tahun 2016. Membaca 15 menit dilaksanakan di kelas masing-masing. Khusus di kelas tinggi, telah disediakan sarana berupa perpustakaan kelas. Setiap pagi sebelum waktu belajar dimulai, siswa dibiasakan untuk membaca buku nonpelajaran yang telah dsediakan. Kegiatan membaca dimulai pada pukul 07.30-07.45 wita setelah siswa melaksanakan kegiatan persembahyangan bersama.
Berdasarkan pengamatan penulis selaku wali kelas V, antusias awal siswa sangat tinggi. Waktu 15 menit terlewati dengan cepat.  Namun, keadaan yang penulis amati ternyata tidak sesuai harapan saat penulis melakukan wawancara terhadap siswa secara acak. Pertanyaan yang diajukan yaitu: 1) Apa judul buku yang dibaca? 2) Siapa saja tokoh yang terdapat pada bacaan? 3) Dapatkah kamu menceritakan isi bacaan? Jawaban yang diberikan siswa ternyata beragam. Untuk judul cerita, semua siswa mampu menjawab dengan benar. Namun berbeda dengan tokoh maupun isi cerita, banyak siswa belum mampu menggambarkan tokoh cerita dengan benar, menyatakan belum mampu menceritakan kembali isi bacaan yang pernah dibaca. Alasan utamanya adalah lupa.
Melihat kondisi secara mikro di kelas V, keberhasilan peserta didik dalam menguasai keterampilan memahami bacaan tidak lepas dari faktor guru. Disadari bahwa ketika melaksakan kegiatan membaca selama limabelas menit, guru hanya menyediakan bahan bacaan, mendampingi siswa membaca, dan tanpa memberikan tidak lanjut langsung setelah siswa membaca. Tidak lanjut dilakukan pada akhir pekan. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa peran guru harus lebih optimal dalam mendampingi siswa membaca. Membaca memang belum menjadi budaya di sekolah. Untuk itu, perlu dibiasakan dengan menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan disertai dengan tindak lanjut. Mengatasi kelemahan yang terjadi maka penulis melakukan upaya perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran Si DIA untuk meningkatkan kecakapan literasi khususnya bagi siswa kelas VA SD Negeri 14 Pemecutan. Lantas, upaya apakah yang dapat dilakukan guru untuk menumbuhkan budaya baca di sekolah?


B.    PEMBAHASAN
Literasi sekolah berkenaan dengan kemampuan bagaimana membaca, menulis, dan melakukan perhitungan numerik dan mengoperasikan sehingga setiap siswa dapat menggunakan keterampilan ini sebagai kecakapan hidup di masa mendatang. Pelaksanaan GLS harus dilaksanakan secara menyeluruh guna menciptakan warga sekolah yang literat sepanjang hayat. Pelaksanaan GLS harus melibatkan partisipasi publik seperti peran guru, kepala sekolah, siswa, petugas perpustakaan, tenaga administrasi, bahkan unsur orang tua siswa.

Model Pembelajaran Si DIA
Perkembangan proses belajar di kelas saat ini tidak harus dalam bentuk individual klasikal, kegiatan berkelompok (kooperatif learning), namun dapat pula dengan mengkolaborasi kegiatan sesuai dengan karakteristik materi pelajaran.
Berdasarkan kenyataan di SD Negeri 14 Pemecutan, penulis selaku guru kelas V mencoba mengkombinasi tahapan pelaksanaan GLS kedalam model pembelajaran Si DIA. Model pembelajaran Si DIA merupakan akronim dari Siapkan, Dampingi, Ilustrasikan, dan Apresiasi. Tahapan pelaksanaan GLS yang dikombinasikan adalah pada tahap pembiasaan dan tahap pengembangan.

Langkah-langkah Pelaksanaan  Model Pembelajaran Si Dia

Pertama, Siapkan. Guru harus menyiapkan perpustakaan kelas dan buku cerita bergambar. Pada pertemuan ini, buku yang dipilih antara lain: cerita fabel, cerita bergambar, dan buku fiksi



Gambar 1. Perpustakaan Kelas




Kedua, Dampingi. Guru membentuk kelas menjadi kelompok belajar.Tiap kelompok terdiri atas 4 orang yang heterogen. Tiap kelompok membentuk ketua kelompok. Kelompok memilih buku cerita bergambar untuk dibaca. Kegiatan pendampingan kelompok bertujuan membantu siswa untk memahami pertanyaan dan cara menyelesaikan.


















Gambar 2.  Siswa membaca bersama kelompok
 
Ketiga, Ilustrasikan. Kegiatan mengilustrasikan berupa guru meminta siswa menyelesaikan daftar pertanyaaan yang memuat judul buku, nama tokoh, alur cerita, isi cerita, dan amanat yang disampaikan. Siswa mengerjakan bersama kelompoknya. Ilustrasi dibuat dalam bentuk gambar.



   Gambar 3. Bersama kelompok, siswa menyelesaikantugas sesuai petunjuk

Keempat, Apresiasi. Kegiatan apresiasi dilaksanakan pada akhir pekan. Bentuk apresiasi yang dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan hasil kerja kelompok kepada seluruh siswa. guru memfasilitasi siswa terhadap tanggapan yang diberikan oleh kelompok lain. Tanggapan tersebut dirangkum, untuk kemudian dijadikan acuan perbaikan. Hasil karya siswa yang telah diperbaiki kemudian dipajang di papan pajangan.












Gambar 4. Hasil karya siswa bersama kelompok




Hasil Implementasi Model Pembelajaran Si DIA
Berdasarkan observasi lapangan selama implementasi model pembelajaran Si Dia berbantuan buku cerita bergambar dapat dipaparkan hal sebagai berkut.
Pada tahap “Siapkan” pada model pembelajaran Si DIA menuntut kesiapan guru menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan GLS di kelas. Pemilihan buku cerita fiksi bergambar.,karena dilihat dari sudut pandang anak-anak umumnya dikaitkan dengan ajaran moral.
Hal tersebut dijelaskan oleh Wahyono (2015) bahwa cerita fiksi pada hakikatnya mengandung suatu ajaran moral dan di situlah letak moral utama ceritanya bahwa tokoh yang tidak baik mesti dikalahkan dengan tokoh yang baik. Kondisi tersebut harus disampaikan dengan sangat hati-hati kepada anak agar pola pikir anak tentang hal baik dan tidak baik mulai terbuka sehingga dalam kehidupan nyata anak dapat membedakan hal yang baik dan tidak baik.
Kemudian, tahap “Dampingi” siswa selama proses GLS membantu siswa untuk memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas sesuai petunjuk. Mendampingi siswa merupakan bentuk fasilitasi guru terhadap penciptaan kondisi belajar yang menyenangkan. Pada tahap “Ilustrasikan”, muncul respon positif siswa untuk “menggambar”. Sukarya (2010) menyatakan bahwa menggambar membelajarkan siswa untuk mencurahkan isi hatinya dalam bentuk karya seni rupa. Sehingga, menggambar merupakan kegiatan yang menyenangkan.
Pada tahap “Apresiasi”, adanya reinforcement juga berkontribusi terhadap peningkatan kecakapan literasi. Penguatan dalam pembelajaran adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap kemampuan yang dimiliki siswa. Adanya reinforcement yang diberikan guru berupa tepuk tangan dan hadiah menjadi motivasi bagi siswa untuk berkarya, menjawab, dan mengajukan pertanyaan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Motivasi menjadikan siswa aktif dalam menggali pemahamannya terhadap materi yang dipelajari. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas dan mengoptimalkan aktivitas membaca.
Pendapat ini didukung oleh Sukadi (2005) yang menyatakan bahwa guru dapat dan harus berperan sebagai koordinator, fasilitator, dan motivator bagi upaya belajar siswa dalam menggunakan berbagai sumber belajar. Untuk itu, berbagai bentuk motivasi, seperti pemberian hadiah dan tepuk tangan memungkinkan siswa untuk semakin aktif mengembangkan konsep-konsep agar dapat dipamahi dengan baik. Ini berarti, pemberian reinforcement penting pula dalam pelaksanaan kegiatan membaca di sekolah.

C.    PENUTUP
Budaya literasi dilakukan sebagai upaya untuk membudayakan pemahaman ilmu pengetahuan dalam ranah pembelajaran. Pembiasaan yang dimaksud adalah kegiatan GLS dilaksanakan setiap hari selama 15 menit sebelum materi pelajaran di mulai. Pembiasaan belajar perlu dikembangkan utuk memperoleh hasil belajar yang maksimal. Pembentukan belajar yang efektif memerlukan tugas-tugas yang jelas dan terstruktur. Apabila setelah siswa selesai membaca, tanpa disertai dengan tindak lanjut yang tepat maka hasil belajar siswa kurang optimal. Pembiasan belajar yang baik harus didukung oleh tugas-tugas yang jelas. Kebiasaan seseorang dalam belajar terbentuk dari kebiasaan belajar mandiri di rumah maupun di sekolah. Membaca dan membuat catatan mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam proses belajar, karena kegiatan yang paling sering dilakukan dalam belajar adalah membaca.
Model pembelajaran Si DIA berimplikasi terhadap penciptaan pembiasaan belajar yang terstruktur, membentuk suasana kondusif yang mengarah pada peningkatan budaya baca. Sehingga, dengan adanya kondisi yang kondusif, niscaya membaca akan menjadi sebuah budaya. Semoga!


DAFTAR PUSTAKA

Faizah, dkk. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Kemdikbud.

Sukadi. 2005. Pendidikan IPS yang Powerful Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran No. 4 TH. XXXVIII Oktober  2005 ISSN 0215-8250. Singaraja: IKIP Negeri  Singaraja.

Thoha, M.C. 2003. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Wahyono, T. 2015. Pengaruh Menyimak Cerita terhadap Kemampuan Bercerita Fiksi pada Anak. Makalah Seminar Nasional Pendidikan Bahasa Indonesia 2015 ISSN: 2477636X  hal.117:Universitas Muhammadiyah Yogyakarta




*) oleh Erry Trisna Nurhayana, S.Pd
artikel disajikan untuk lomba Penulisan Artikel Ilmiah Tahun 2017

Peran Pemerintah Badung dalam Membangun Generasi Literate di Era Global*

October 14, 2017 Add Comment
A.    Pendahuluan
Menurut data dari The Organication for Economic Co-operation and Development (OECD), minat membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah diantara 52 negara di Asia. Selain itu UNESCO pada tahun 2012 melaporkan bahwa kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku sedangkan Indonesia mencapai titik terendah 0,001% (Kompas, 2016). Artinya, dari 1000 orang di Indonesia hanya satu anak yang mampu menyelesaikan satu buku. Melihat kondisi yang seperti ini, nampak bahwa minat membaca anak-anak sangatlah kurang. Rendahnya minat baca siswa secara tidak langsung mempengaruhi mutu lulusan pendidikan. Menanggapi kondisi ini, pemerintah Kabupaten Badung mengupayakan sebuah terobosan yang mampu menumbuhkembangkan minat siswa sekolah dasar khususnya untuk membaca, sehingga berdampak pada peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Badung. Adapun program yang sedang gencar dilaksanakan oleh Pemerintah Badung adalah Gerakan Badung Membaca (GBM) dan Program Bantuan Laptop untuk siswa.

B.    Pembahasan
Pertama, Program Gerakan Badung Membaca digelar untuk meningkatkan minat dan budaya baca anak, menumbuhkan motivasi, semangat dan kompetensi bagi seluruh siswa serta mewujudkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing. Pemerintah sadar untuk mewujudkan tujuan itu diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Selain dari pemerintah, pihak keluarga dan masyarakat juga sangat penting dalam menyukseskan GBM.
Siswa sekolah dasar menjadi sasaran program GBM, karena menciptakan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing melalui gemar membaca, sangat efektif ditanamkan sejak anak usia dini. GBM mulai digelar sejak tahun 2016 dan akan dilaksanakan secara berkesinambungan. Dalam kegiatan GBM, ada berbagai macam lomba yang akan diikuti oleh seluruh siswa di Kabupaten Badung. Kegiatan yang akan dilombakan seperti Koreo Badung Membaca, Pemilihan Duta Membaca, Masatua Bali, Bercerita, Menulis Cerpen, Mengarang, Yel-yel, Cerdas Tangkas, dan Menulis Surat untuk Bupati.
Lomba Koreo Badung Membaca merupakan lomba gerakan senam yang mengajak anak-anak untuk rajin membaca. Gerakan senam ini diiringi lagu “Badung Membaca” yang dinyanyikan oleh penyanyi cilik Bali bernama Dinda Sutha. Lagunya riang, liriknya mudah dihafal dan sesuai dengan karakter anak sekolah dasar. Berikut lirik lagu “Badung Membaca” ciptaan Agung Wirasutha dan Gus Saka.

Badung Membaca
Hei…kawan
Marilah kita berkumpul
Bersama gembira, satukan cita

Hei…kawan
Bangkitlah dari tidurmu
Segera semangat
Menatap masa depan

Ayolah kita melangkah bersama
Raihlah cita-cita setinggi langit
Buku sebagai teman wujudkan impian
Ayolah hei kawan kita harus rajin membaca

Ayo, ayo, ayo, ayo membaca!
Membaca, membaca, membaca buku
Untuk menambah wawasan kita
Bukalah bukumu
Mulailah membaca
Mari, mari, mari, mari membaca
Membaca, membaca, membaca buku
Untuk menambah wawasan kita
Bersama kita di sini
Di Badung Membaca

          Dengan adanya lomba Koreo Badung Membaca, seluruh sekolah dasar di Kabupaten Badung melatih siswanya untuk menguasai senam karakter Badung Membaca tersebut. Penguasaan senam karakter Badung Membaca dibantu juga oleh siswa SMA/SMK yang sudah dibentuk dan ditugaskan sebagai relawan Gerakan Badung Membaca oleh pemerintah Kabupaten Badung. Para relawan datang ke tiap sekolah dasar di Kabupaten Badung untuk melatih adik-adiknya melakukan senam karakter Badung Membaca.
 Gambar 1. Lomba Koreo Badung Membaca


SD No. 1 Mengwitani, tempat saya mengajar menjadi bagian dari pelaksanaan GBM. Menindaklanjuti penguasaan gerakan senam tersebut, setiap pagi setelah melakukan persembahyangan dan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya bersama, diputarkan musik senam Badung Membaca untuk mengiringi anak-anak dalam menghafal gerakan senam tersebut. Anak-anak pun sangat bersemangat di setiap gerakannya. Riang gembira mereka mengiringi musik Badung Membaca dengan gerakan yang sudah mereka pelajari dari relawan Badung Membaca.
Kegiatan lain yang dilombakan yaitu pemilihan Duta Membaca. Pemilihan Duta Membaca merupakan kegiatan mengumpulkan kupon Gerakan Badung Membaca sebanyak-banyaknya. Semakin banyak kupon yang dikumpulkan siswa, semakin besar peluang untuk menjadi Duta Membaca. Kupon diperoleh setelah siswa berhasil meringkas bacaan yang sudah dibacanya. Ringkasan yang dibuat siswa berdasarkan bacaan yang mereka baca, tidak hanya buku pelajaran, buku pengayaan serta buku cerita pun bisa mereka ringkas. Satu ringkasan akan ditukar dengan satu kupon.
Siswa berkesempatan mengumpulkan kupon sebanyak-banyaknya sampai H-3 dari puncak acara GBM. Penentuan juara didasarkan pada 10 besar kepemilikan kupon GBM terbanyak dan kemampuan mengulas kembali dari apa yang mereka baca di depan para juri. Bobot penilaian Duta Membaca Kabupaten Badung adalah 80% berdasarkan kepemilikan kupon dan 20% saat tampil dihadapan juri. Dengan adanya kegiatan pemilihan Duta Baca ini, siswa di sekolah saya sangat antusias dalam membaca dan meringkas buku apapun yang mereka inginkan. Setiap harinya dengan bersemangat mereka memburu kupon GBM dengan menukar hasil ringkasan dari bacaan yang sudah dibacanya.
          Lomba Masatua Bali merupakan kegiatan bercerita dalam Bahasa daerah Bali. Cerita yang akan dibawakan bebas, sesuai dengan cerita anak yang beredar di daerah Bali. Di sekolah saya, anak-anak yang berminat untuk mengikuti lomba ini dilatih langsung oleh kepala sekolah yang sudah berpengalaman membina lomba masatua Bali. Saat lomba masatua Bali, siswa menggunakan pakaian adat bali dan diperkenankan untuk membawa semua sarana yang diperlukan dalam bercerita. Sama halnya dengan lomba bercerita. Hanya saja dalam lomba bercerita, siswa membawakan cerita dalam Bahasa Indonesia.
          Menulis Cerita merupakan kegiatan lain yang dilombakan dalam Kegiatan Badung Membaca. Peserta dari lomba ini adalah siswa kelas empat, lima, dan enam. Lomba menulis cerita mengambil tema “Membaca Membuat Kita Tahu Tiga Dunia (dulu, sekarang dan akan datang)”. Adapun kriteria dari lomba ini antara lain orisinalitas, yaitu naskah karangan asli bukan terjemahan dan belum pernah dilombakan atau dipublikasikan, kerapihan cerpen, mulai dari penggunaan tata bahasa yang baik, tanda baca dan kerapihan paragraf, adanya unsur kejutan dalam cerita, dapat dinikmati oleh semua kalangan, kesesuaian cerita dan tema, struktur pengisahan, isi cerita, dan tentunya kreativitas. Di sekolah saya, siswa yang berminat mengikuti lomba ini dilatih langsung oleh wali kelasnya masing-masing.
Lomba mengarang merupakan lomba yang hanya bisa diikuti oleh siswa kelas lima. Naskah dibuat dalam bentuk artikel atau opini. Peserta lomba mengarang menggunakan tulis tangan dengan tinta pulpen berwarna hitam, menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta karangan tidak mengandung unsur SARA. Tema yang diangkat dalam lomba mengarang adalah “Membaca Membuka Jendela Dunia”. Sama seperti halnya lomba menulis cerita, dalam lomba mengarang ini juga diperhatikan orisinalitas, penggunaan bahasa, isi karangan yang runtut dan berisi pesan serta nilai-nilai positif dalam kehidupan.
          Lomba yang tidak kalah menarik adalah lomba yel-yel. Yel merupakan lagu singkat sebagai penyemangat. Lomba ini akan diikuti oleh kelompok siswa yang terdiri dari 20 orang siswa-siswi. Peserta bisa berasal dari kelas tiga sampai kelas enam. Lomba yel-yel ini mengusung tema “gerakan badung membaca untuk generasi cerdas Indonesia”. Penilaian lomba yel-yel dilihat dari kekompakan regu, materi yel-yel, formasi, dan durasi waktu tampil yang tidak boleh lebih dari tiga menit. Anak-anak di sekolah saya sangat antusias mengikuti lomba yel-yel ini. Mereka bersemangat dalam membuat yel dan berlatih bersama teman-temannya. Tidak ada kesulitan bagi mereka dalam membuat yel, karena mereka sudah sering membuat yel bersama regunya saat ekstra pramuka di sekolah.
          Cerdas Tangkas merupakan lomba yang bisa diikuti oleh siswa-siswi kelas tiga sampai kelas enam. Setiap kecamatan mengirim satu regu terdiri dari 10 orang. Materi lomba tentang ketangkasan dan pengetahuan umum.
          Menulis surat untuk Bupati merupakan lomba yang sangat dinanti oleh siswa sekolah dasar di Kabupaten Badung. Bagaimana tidak, melalui lomba ini mereka berkesempatan untuk menyapa orang nomor satu di Kabupaten Badung walaupun hanya lewat surat. Kegiatan menulis surat diikuti oleh siswa dari kelas tiga sampai kelas enam. Surat ditulis tangan dengan menggunakan pulpen hitam.
Surat bertema “Janji Menjadi Anak Cerdas dengan Rajin Membaca”. Surat dari hasil karya anak tersebut masing-masing dimasukkan ke dalam amplop biasa dan dilengkapi tujuan surat dan alamat pengirim. Surat ditujukan kepada Bupati Badung di Mangupura, data pengirim  meliputi  nama siswa, asal sekolah dan kelas. Siswa di sekolah saya, terutama di kelas yang saya ampu, sangat bersemangat menulis surat dengan tulisan yang sebagus-bagusnya. Mereka berharap suratnya nanti dibaca oleh Bupati Badung.
          Program kedua, Bantuan Laptop untuk Siswa. Untuk menyiapkan peserta didik menghadapi pendidikan di abad 21, Pemerintah Kabupaten Badung memberikan bantuan laptop kepada siswa sebagai sarana belajar. Pemberian laptop diberikan secara bertahap. Tahun 2016 laptop diberikan kepada siswa kelas VI dan wali kelasnya menyusul di tahun 2017 kepada siswa kelas V dan wali kelasnya.
Gambar 2. Pemanfaatan Laptop dalam pembelajaran

Laptop ini merupakan barang inventaris yang pemanfaatannya diberikan selama siswa tersebut berstatus aktif sebagai siswa sekolah dasar. Guna mengoptimalkan pemanfaatan laptop, guru-guru diberikan pelatihan. Mengingat, di tahun 2018 pemerintah Kabupaten Badung berencana mewujudkan Badung sebagai smart city. Ini berarti bahwa di masa depan, Pemerintah Kabupaten Badung dapat dengan mudah memantau penggunanan laptop dalam pembelajaran sebagai wujud pencapaian literasi digital. 

C.    Penutup
Program Gerakan Badung Membaca dan Pemberian Bantuan Laptop kepada siswa merupakan terobosan inovatif dan kerja nyata Pemerintah Kabupaten Badung dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Upaya di bidang pendidikan ini patut diapresiasi. Sebagai guru di Kabupaten Badung, penulis sangat merasakan perhatian pemerintah dan dampak program bagi siswa-siswi khusunya di sekolah dasar. Besar harapan, program ini dapat terus berjalan secara berkesinambungan sehingga momentum Generasi Emas 2045 dapat diwujudkan secara optimal. Semoga!


Daftar Rujukan
Harian Kompas tanggal 18 Agustus 2016


*) oleh Kadek Eva Dwi Jayanti, S.Pd
 disajikan dalam rangka Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah dasar Tahun 2017